Monday, 25 June 2018

Malaikat

Sejak aku melihatnya di pagi yang berembun itu, sedang duduk berbicara dengan angin, aku selalu bertanya-tanya, mungkinkah tuhan marah padanya sehingga dia dilahirkan di bumi. Aku membayangkan tawar-menawarnya dengan tuhan sebelum dia pada akhirnya berakhir dititipkan di rahim seorang wanita yang lama mendambakan anak gadis.

Barangkali ketika tuhan hendak menciptakan sayap di punggungnya dia justru mengelak, “aku tidak menginginkan sayap, aku ingin tertidur menghadap bintang-bintang.” Maka tuhan uraikan sayap itu lagi, melepaskannya perlahan-lahan agar tidak melukai punggungnya. Melipatnya lagi kemudian menyimpannya.

Ketika tuhan hendak menempatkannya di Surga dia justru membuat alasan, “Aku ingin berjalan di atas tanah.” Maka tuhan tiupkan ruh nya dari segumpal daging dan darah, dan dikirimkannya ke dataran yang gersang ini, untuk menemui seorang pemuda seperti aku, yang justru kehilangan diri.

Setiap kali kuceritakan padanya mengenai bayanganku tentang tawar-menawarnya dengan tuhan, dia akan tertawa kemudian membalasku. “tahu tidak, sewaktu aku memaksa-Nya dan Ia menjadi kesal, apa yang dilakukannya kepadaku?”

“Apa?”

“Tuhan sengaja tidak menyelipkan tulang rusuk didalam diriku waktu itu.”

“Benarkah, mengapa?”

“Agar aku tetap jadi kepunyaan-Nya. Sehingga tidak seorangpun akan menjadi sebagian dari hidupku selama aku meninggalkan-Nya.”

“Mengapa tidak nurut pada tuhan? Mengapa tidur menghadap bintang-bintang ketika bisa menggapainya dengan mudah? Mengapa berjalan diatas tanah ketika bisa menjadikannya dipenuhi bunga?”

“Karena terkadang, memiliki sesuatu membuatmu lupa cara mencintainya. Sementara mendambakannya, membuatmu lebih menghargainya. Sesuatu hal yang terlalu mudah, tidak dapat mengajarkanmu caranya berusaha.“

“Bukankah harganya terlalu mahal?”

“Kamu tidak mengerti, itu sebuah kesepakatan dan aku telah menyetujuinya. Aku membayarnya dengan senang hati. Tidak ada yang terlalu mahal, tidak ada pengorbanan, karena aku senang menjalaninya.”

Waktu melahap habis dirinya, walau sepasang mata cantik dan senyum yang sama tak akan pernah luput dari wajahnya. Dia hanya membiarkan orang-orang mencintainya, tetapi dia yakin tuhan menciptakannya sendirian. Kisah tentangnya bukan lagi sebuah kejutan.

Aku lebih terkejut memikirkan kisah yang tuhan ciptakan mengenai diriku. Aku pikir aku akan mengembara jauh, menemukan gadis idaman yang mencintaiku sepenuh hati, hidup dengan dua anak yang lucu dan baik, kemudian menjadi saudagar kaya raya. Tetapi aku terjebak disini dengannya, seolah terperangkap dan tidak bisa kemana-mana. Aku dibuat tidak sadar ketika umurku terus beranjak dan sampai dikepala 8 sedangkan aku tidak melakukan apa-apa.

“Barangkali tuhan tidak menciptakanku dari rangkaian tulang.” Kataku padanya senja itu, dengan tubuh bersandar menghadap matahari. Dayaku hanya sekedar menyuarakan pikiran dan barangkali mendampinginya sampai ajal.

“Lalu dari apa?”

“Dari sayap yang kala itu dilepaskan dari punggungmu.”

“Mengapa begitu?”

“Karena aku pikir lucu, kamu tidak diciptakan untuk jatuh cinta, tetapi aku diciptakan untuk selalu menunggu.”

Thursday, 17 May 2018

I AM

I am the person who can always be found right where you left. 

Can’t bring you the promise of better days, but you can carry my smile with you. 

I am the person who speak to you like poetry.

Whispering in a thousand tragic endings, but build you another dreams.

I am the bruist of your chest.

Painting scars in your heart tenderly, but draw happiness wich leave its mark deeperly. 

I am the letters writer, sending hopes into your monochrome mind.

You may not hold my wraist, but I let you overtaking everything in me, and carve some parts of yours in it.

I am the story have happened in so many places and to so many people.

Trascending your delusion, but I caress your illussion so it becomes reality.

I am the character made by your head, and your heart, and your hand. 

Depending on the fairytale you fight at the last page. 

Then if you decide me to be vanished,


All I hope is someday you will find me and remember what I once meant to you.

Monday, 18 December 2017

JENUH



JENUH(ku)

Suatu hari, orang yang dahulu kamu tatap dengan penuh rasa, menjelma menjadi seonggok daging yang hanya bisa kamu berikan senyuman hampa

Semua perasaan, mimpi, dan ambisi, menjelma menjadi sisa goresan-goresan tinta yang bukunya mulai melapuk dimakan waktu

Semua hingar bingar tentang tawa dan amarah menjelma menjadi sederetan koma dan tanda tanya yang menunggu disematkan titik pada akhirnya

Katakan Jenuh, mengapa semua masa yang kulahap habis bersamanya seperti tidak menyisakan bekas selain kekosongan dan kesunyian

Dan mengapa setiap waktu yang pernah aku bagi dengannya seperti hanya kesia-siaan sebab tidak ada lagi yang bisa kuingat bahkanpun dirinya

Seolah rintikan hujan diatas genteng pun terdengar menyuarakan perpisahan, sesuatu hal yang bisa membuatku menangis semalaman sebelum semua perasaan janggal ini membuatku dilema

Bukankah dengan berhenti mencintainya saja aku sudah terlanjur menyakitinya?

Jenuh, aku tidak mengerti mengapa dahulu aku harus jatuh cinta sampai-sampir seluruh diriku melayang setiap kali melihatnya. Aku tidak paham mengapa perasaan itu tinggal pengap dan hilang, tetapi bukan kehilangan

Sungguh, aku tidak ingin menyakiti siapapun, tetapi mendadak semua ikatan ini hanya meninggalkan semu.


Katakan padaku, didalam semua kegelisahan ini, haruskah aku bertahan? Atau haruskah aku meninggalkan?



*****


JENUH(nya)

Aku paling tidak mahir berjudi perkara kehilangan. Lukaku kini seperti tidak habis dibasuh hujan dan air mata. Yang ada dihadapanku adalah sosok yang rasa dan hasratnya sudah tiada. 

Aku ingin menahan malam dan mengulum pagi. Supaya aku tidak takut karena tahu dia pasti akan pergi. Meskipun belum tapi nanti akan terjadi. Iyakan benar, sekarang dia sedang berencana melarikan diri

Aku ingin menunggunya sembuh, tetapi ini Jenuh. 

Aku berjuang membuatnya bertahan. Dia tetap saja tidak menetap seperti lama memutuskan untuk menyerah. Hanya karena dia kehilangan rasa, aku harus kehilangan seluruh dirinya. 

Lalu-lalu berlalulah. Masa lalu melajulah. Sebagian mimpiku sudah diraup dan di hembus. Jiwa raga ini hanya sisa harap semoga dia tidak jadi berlabuh. Mungkinkah aku dan dia tidak harus bersatu?

Tidak usah minta maaf, tidak ada yang bisa menyembuhkan. Barangkali hanya sisa sayup-sayup suaranya ketika fajar, membangunkanku menghadap tuhan. Hanya sisa cerita-cerita yang dia bagikan, yang tidak lebih dari sekedar kenangan.

Lakukanlah yang sekiranya membuat hatinya membaik. Aku disini akan tanggal tetapi tetap berdiri. Jangan khawatir, semogakan saja suatu hari aku akan pulih. Jadi ketika menemuinya lagi di sore hari, aku bisa tersenyum tanpa merasakan perih, dan dia akan berlalu lagi tanpa mengingat hari ini pernah terjadi.

Kalau baginya denganku hanyalah angan, biar pergilah dia berlayar ke tempat yang lebih nyaman. Barangkali disana Jenuh tidak lagi mengejar. Atau bisa jadi dia akan belajar tentang kehilangan.

Aku tidak siap, dan tidak akan pernah. Tetapi jika aku bukan lagi alasan dia bahagia, mengapa aku harus memaksanya bertahan?

Katakan saja padanya, bahwa aku mencintainya. Katakan juga padanya, jika dia hilang, dia tidak akan tahu lagi kemana aku berkelana. Ketika dia memutuskan, maka aku akan sepenuhnya menarik diri darinya. Katakan saja. 

Monday, 24 July 2017

kinda quote of the day (2)


When I stare at your smile

I am sad

Because now I know

There are a lot of things

That will ruin my head

When I lose that smile