Posts

Maaf

  Pagi ini rasanya berbeda.   Setiap hidup di rumah mati. Aku seperti ditinggalkan bersama kebisuan yang tidak lagi bisa bersuara. Burung di luar jendela sepi, entah bisa jadi mereka sedang libur berkicau. Hanya ada jendela yang membasuh dirinya dengan embun, tatapi sudah mulai mengeringkan diri.   Kamu dimana?   Aku kehilanganmu sejak membuka mata. Aku mencarimu di kolong meja, di laci dapur, di halaman belakang tapi tidak ada. Suara langkah kakimu tidak terdengar dari mana-mana, lenyap, bahkan kayu saja masih meninggalkan abu supaya api bisa mengenang. Tetapi satu-satunya yang kamu tinggalkan adalah jejak kemarahan, yang masih meresap di sekujur ingatanku. Bagaimana kamu bertahan, menangis, meluapkan semua rasa yang lama menghuni ruang jantungmu. Semalam aku membebaskan mereka, membuat mereka menjerit dan berteriak dari dirimu yang damai.   Tukang paket yang mengirimkan sepucuk surat tagihan menanyakanmu, abang ojek yang mengirimkan makanan menanyakanmu, tukan...

Seingatku, pernah

       Pernah ada setengah malam terjaga membicarakan bintang-bintang. Pernah ada pertengkaran sehebat badai yang reda hanya karena lelah, lalu kamu tersenyum lagi keesokannya. Pernah ada hari perutku keram karena kamu terlalu banyak bercanda dan aku tertawa karena tidak satupun leluconmu cukup jenaka.      Pernah.      Seingatku pernah.      Kemudian aku selalu membicarakannya, memastikan bayang-bayang itu pernah terjadi, tidak sekedar pernah dikhayalkan, dan kamu memang pernah ada, pernah singgah, pernah bercerita, tidak sekedar mimpi yang diusir pagi. Kemudian pula aku selalu terjebak, pada apa-apa yang aku yakini pernah ada, dan aku masih sanggup menceritakannya secara terperinci supaya siapapun dapat membayangkan seperti apa rupa-mu ketika lapar.      Tapi barangkali kamu sudah tidak mengingatnya sama sekali. Setiap kali namaku sampai di telingamu, kamu hanya merasa pernah mendengar, tetapi sudah lupa s...

Hanya Sekedar

  Sore ini rasanya ingin sekali aku berbincang lagi tentang sendu yang sudah pasti melibatkanmu. Karena tidak ada lagi sedih yang cukup haru selain tentangmu, walau lama tidak bertemu. Aku bertanya-tanya sudah sepanjang apa rambutmu, apakah wangimu masih seperti dulu, ataukah kamu tidak lagi suka makan satai karena terlalu banyak debu? Andai kamu tau, jantungku masih berpacu degupannya ketika memikirkanmu. Tidak pernah aku benar-benar pergi. Hanyalah ruang luas yang ingin aku kembalikan padamu dan dunia yang bisa kau isi dengan mimpi. Tidak pernah aku benar-benar hilang. Hanyalah tidak adil menjadi atap yang sekedar menghalangimu menatap bintang-bintang, tapi tidak berpendar ketika setapak jalanmu kelam. Kamu tidak bisa membagi bahkan walau hanya sedikit, padahal jika pundakmu berat selalu kutawarkan pelukan untuk beristirahat. Selalu aku berharap ada, ketika hujan di matamu dan keluh kesah memenuhi dadamu, tetapi tidak pernah ada aku pada setiap sedih dan senangmu, tidak pernah ad...

Biarkan Aku

  Kamu dan kepalamu yang penuh keresahan selalu menyisakan tanda tanya tentang aku yang berubah   Mengapa kamu dan keras kepalamu tidak bertanya kepada dirimu sendiri, apakah adil jika kamu memintaku untuk tetap sama?   Merangkai kehidupan dari sisa pondasi yang kau tinggalkan berantakan, menjadi seseorang yang mencintaimu dengan sungguh dan senang, lalu selamanya bertahan dengan perasaan hilang?   Mungkin perlu kau ajarkan padaku caranya melanjutkan hidup dengan patah hati yang tak ramah, mengharapkan kebahagiaan dari pintu yang membanting dirinya tanpa memberiku ruang untuk marah, menetap di ruang yang selalu mengingatkanku bahwa aku ditinggalkan, lalu melanjutkan hari-hari dengan cara yang sama sehingga jika suatu hari kamu mampir sekedar bertanya kabar, kamu akan menjumpai seorang gadis yang pernah membuatmu merasa pulang.   Hanya supaya kamu tidak perlu merasa asing dengan dirimu sendiri.   Hanya supaya kamu tidak menyesali keputasanmu lebih jauh lagi....

Andai

Setengah hidupku setelah perginya hanyalah sebatas andai. Dalam ingatmu, aku adalah pengecut yang takut, padahal beraniku adalah menghadapi hari-hari tanpa hadirmu, lalu memenuhi diriku dengan sesal dan marah.   Andai aku bisa mencintaimu dengan tepat. Memberimu ruang yang lapang agar kau paham kekacauan apa yang terjadi di kepala, yang membuatku lebih sering lari dibandingkan mengerti. Mungkin saja kamu masih disini, menyusun aku dari derita dan putus asa, merapihkannya dengan sabar, yakin bahwa cepat atau lambat upayamu akan tuntas.   Andai aku mampu mencintaimu dengan baik. Mendengar khawatirmu yang selalu pecah setiap bertengkar, menarikmu lagi dalam dekapan, lalu menjanjikan esok yang lebih tenang. Mungkin saja kamu masih disini, menopangku dengan percayamu yang keras kepala, mengusir pasrahku yang tak pernah kalah.   Maaf, karena aku tak bisa menjdi rindu tanpa menjelma ragu. Maaf, karena memaksamu menyerah karena aku tidak merasa cukup mampu untuk bertahan. Maaf, k...

Bermimpi

Aku memimpikan hati yang lapang, sehingga apapun atau siapapun yang ditakdirkan berpisah jalan tidak akan membuatku resah.   Aku memimpikan rasa yang sabar, sehingga apapun atau siapapun yang melangkah masuk tanpa diharapkan, tidak membuatku berbalik pulang.

Selamanya

Disudut ingatan yang paling hangat, dia akan terjebak dalam dekapanmu yang erat, tak akan pernah kemana-mana. Entah Ia ingin lari sampai ujung dunia dan kamu berniat tak ingin jumpa, selamanya rasa adalah kuasa. Hujan-hujan yang telah kita lalui bersama akan selalu tuntas dalam semalam, itu mengapa kamu menyukai intensitas dan kuantitas. Agar ingatanmu selalu ramai seperti lalu lintas. Aku adalah upaya, inti dari keresahanmu yang nyata. Kamu adalah fana, nampak dari apa yang sebenarnya tak ada. Kita adalah sebuah kesepakatan yang tercipta secara tidak sengaja. Tak satupun hal tentangmu membuat aku lupa dan kecewa, kecuali kenyataan bahwa sebenarnya kamu masih sebatas cerita tentang yang tak bisa tumbuh. Untukmu aku hidup dan pupus. Waktu akan jadi saksi tentang segala sesuatu yang membuatmu selalu bisu dan aku pura pura tidak tahu. Kau adalah candu yang biru, yang mengajarkan aku caranya menikmati setiap puisi dalam lagu.  Poros kita hanya aksara. Tak ada yang berdosa maupun m...

Hujan Nanti

 Aku merindukan hujan.             Jatuh semalaman, berpesta, membuat kerusuhan di setiap jendela, sambil menyapu setiap keresehan yang berjatuhan di sepanjang jalan yang pernah kulalui bersamamu. Seperti waktu berjalan mundur, kepala dan dadaku mengenang jutaan jam yang lalu ketika semua mimpi kita terasa seperti angan-angan. Tidak hanya keberanian, tetapi sikap pantang akan rasa bersalah untuk meraupnya satu-persatu.             Bertahan. Menyerah. Membuat jarak. Gagal. kembali. Bertahan. Kemudian mengulang siklus yang sama diam-diam.              Mata yang kutatap berulang kali. Aku pernah melihatnya bahagia, kemudian sedih, lega, kemudian putus asa, penuh pengertian, kemudian berusaha tidak peduli, hangat, kemudian membeku. Tetapi dengan cara apapun, aku selalu menginginkannya. Kalau beral...

Ombakmu yang Tenang

Waktu bisa berlari secepat ini. Aku menjumpaimu pada pagi hari yang sibuk, dan melepaskanmu pada petang yang lelah dengan keadaan hati yang seringkali tidak menyenangkan. Membuatmu pulang dengan perasaan kesal dan tidak enak, kemudian terlelap dengan tidak nyenyak. Banyak hal terlewat, banyak cerita tak dikatakan, banyak khawatir yang berlebihan.  Kamu sibuk, aku tak mau ambil pusing, melarikan diri agar tidak mencari. Aku sibuk, kamu mencari kesibukan lain, supaya tidak menunggu sendiri. Ada jeda yang kosong, yang selalu membuatku rindu, tetapi kamu jauh, dan aku tak baik sering-sering mengeluh. Aku akan membiarkanmu, dengan perasaan tidak enak, kemudian berlalu seperti tidak ada apapun yang harus diperbincangkan. Jarak waktu ini akan membuatmu luput dalam ruang sendirimu, bermain-main disana dan lupa ada aku. Sementara kamu entah dimana dan bagaimana, aku akan kembali berkawan jenuh. Menyibukkan diri agar tak banyak ingat kamu. Lambat laun kamu tidak lagi peduli, kamu akan ...

Pamit

Aku masih larut menatapi jendela dan langit gelap dengan rasa yang sama seperti dua pekan lalu. Orang-orang takut aku hilang waras karena aku terdiam dan termenung walau air mata tidak berjatuhan dari pelupuk mata. Tidak ada gunanya, karena semua air mata itu juga tidak akan membuatmu kembali. Hanya aku tidak tahu, bahwa ternyata melepaskanmu sesulit ini, dan aku harus melakukannya walau sebagian diriku tidak terima. Masih basah dalam ingatan ketika langit malam sesendu kali ini, kala hujan turut merintik dibalik matamu. Jendela memberi mataku pemandangan kota yang ramai dengan lampu dan harapan yang berangsur-angsur surut. Kau merunduk, menyandarkan keningmu di bahuku, dan serta-merta bahu ini menopang seluruh beban yang memelukmu dengan mesra. Tanganmu perlahan merenggut seluruh tubuhku, seolah hanya milikmu, bergegas merengkuhnya kedalam hangat wangi tubuhmu yang belum dibasuh mandi sore ini. Perlahan wajahmu mengangkat, menatap mataku dengan cemas, kemudian menutupnya d...

Antara

Ketika kamu membicarakan pantai, Kamu seringkali lupa membicarakan ombak. Seperti aku diujung kakimu, Berjalan sebagai bayangan. Ketika kamu melihat hujan, Kamu mengharapkan pelangi, Tetapi badai yang kemudian datang. Seperti kamu diujung pintaku, Walaupun bukan bahagia, Tetapi bagian dalam doaku. Kamu selalu bertanya mengapa aku cemas dan takut, Karena kamu meminta komitmen tetapi selalu membuatku meragu, Jika orang lain masih menjadi prioritasmu, Biarkan aku menjadi bagian yang tidak penting saja bagi hidupmu. Karena aku ingin dipertimbangkan, bukan dikesampingkan. Bagaimana jika sebenarnya aku ingin mencintaimu, tetapi benar-benar tidak mampu. Karena aku takut, Kamu selalu tertutup, Ini jalan buntu. Dan aku, bahkan tidak menemukan jalan untuk kabur. v Ketika kamu membicarakan pantai, Kamu seringkali lupa membicarakan ombak. Seperti aku diujung kakimu, Berjalan sebagai bayangan. Ketika kamu melihat hujan, Kamu me...

Badain Tuan (Belum) Berlalu

Badai Tuan Belum Berlalu Tuan, Pagi ini rupanya saya terbangun dengan catatan kecil di sebelah tempat tidur yang harus saya baca dengan penuh rasa ikhlas. Kalau Anda mengatakannya semalam, setidaknya saya akan terjaga lebih lama. Tapi tidak apa-apa, kalau memang ini membuat anda merasa lebih nyaman. Tuan, Saya pikir kita akan berlayar setidaknya sampai dermaga terdekat, meskipun lautnya dangkal dan kapal akan rusak. Angin mendorong layar, sementara kita menikmati pemandangan senja berdua sambil membagi sepotong roti. Perbekalan yang tidak seberapa, dibandingkan perjalanan yang kita tempuh hingga membawa kita disini. Tuan, Saya tahu betapa Anda tidak benar-benar menikmati perjalanan ini. Anda menginginkan kapal yang lebih besar, dengan ombak yang lebih dahsyat, menghadapi perompak, dan pulau harta karun yang menunggu diujung teropong. Anda menginginkan perjalanan selamanya, sementara saya hanya bisa menjanjikan dermaga terjauh. Tuan, Saya pikir setidaknya...