Posts

Tanpa Purnama

Purnamaku berlarut Menguap kemudian turun hujan Rinduku bersedu Katanya ingin berjumpa dengan Cinta Waktu selalu melompat Kadangkala berlarian Aku tak lagi punya daya Untuk sekedar menghitungnya Banyak cangkir kopi yang tandas di lidah Tapi tak ada yang sepahit kehilangan Tak ada yang serumit merelakan Dan gula tak membuatnya lebih manis dari kenangan Aku mau berlari Mengelilingi bima sakti Demi menemukan Cinta yang hilang Yang dulu aku tinggalkan Embun selalu meregang nyawa Diujung ranting, ketika fajar Aku adalah embun itu, Cinta Mati, sebelum senja... Boleh kau benci aku Dengan segenap inginmu memilikiku Dan rindu yang mulai melayu Atas semua keputusanku Tapi aku bisa menebusnya Tidak lagi dengan hitungan purnama Tetapi dengan sisa hidup yang kita punya Sampai nama jadi hiasan nisan Yang terakhir bagiku, Cinta Untukmu, kujanjikan pula yang terakhir Tak lagi perlu kejar-kejaran Hanya tinggal menetap saja... Aku, dan kamu, Tanpa purnama

Surat Singkatku

Ada kata-kata yang tanggal dari baidnya. Kalimat menjelma frasa yang tak lagi ada artinya. Jika cinta menjadikanmu pendendam, maka lebih baik bagimu untuk diam.  Ada yang tersurat dari yang tersirat. Kalau aku salah satunya, itu bukan lagi kejutan. Karena bagimu, akulah sang tersangka. Biarlah berlalu segalanya. Yang indah telah jadi sejarah. Aku dan kamu hanyalah sepenggal cerita lama. Ada setangkup cinta yang kau tadah. Dari retakan percaya. Dan sisa putus asa.  Ini bukan perkara apa yang telah direnggut darimu. Ini adalah perkara yang kau beri tapi tak kau ikhlaskan berlalu. Karena hadirku menjadi pilu, telah lama kuputuskan untuk menjauh. Tapi kau pandang aku hanya sebagai benalu. Aku selalu memilih untuk bungkam. Aku pikir, diam adalah cara terbaik menguraikan pikiran. Tapi diamku tak lagi bermakna. Sebab bisu membuatku justru menderita. Dan kepadamu, kutuliskan surat berisi beberapa baid hasrat yang ingin segera kutuntaskan. Tidak ada yang diam. Tuhan tidak ...

Fracture Me

The chaos is unbearable Much delussion Million illusion Babe, Gaze at me,  At least, One last time  And then,  Fracture me I'm better lost  Because this pain accelerates my ruination I can't force you to keep your words And your consistency Or even honesty But, Even in my last breath I swear, I love you... It doesn't matter If you love me Or you already stopped Because babe, I'm fractured

Untold

My tongue hold those words My eyes hold these tears There will be no more hope Instead of reality My love is real Your love is odd That's why our path is further away Words can't describe Hence, it's better untold For you it's not worth You shouldn't say something Even a word Because your eyes already told me a lot A story inside your head For me it's broken Because it has never been you But your shadow And your secret And the dream that ruined my head Babe, I'm already dead Since the day that we met So it ain't no big deal If you try to kill me again Just, Be happy.

Dia, Sayang!

Semoga bukan untuk kamu... Ada sakit yang lebih nyeri dari berdarah. Dan ada perih yang lebih membunuh dari dosa. Rasanya berjalan di setiap pembuluh darah. Berdetak bersamaan dengan jantung. Terikat disetiap tulang rusuk.  Lari-lari di dalam tubuh seperti anak kecil yang kecanduan main perosotan.  Katanya, kamu akan menjagaku, apa menyelamatkanku ya? Ah, aku lupa, Sayang. Tapi kau tahu, sebenarnya, seseorang perlu datang menyelamatkan aku darimu. Iya kamu! Sebab denganmu aku bukannya bahagia, melainkan merapatkan semua luka ke pusat hati. Menyimpannya disudut kecil yang paling terpencil. Agar kau tidak harus melihat darahnya.  "Aku mencintaimu, aku mencintaimu dan takan berhenti melakukannya." Katamu kala itu. Ketika kita terjebak macet panjang di lampu merah tengah kota. Hanya berdua. Didalam mobilmu. Bagaimana caraku percaya, Sayang? Janjimu adalah sebaris puisi indah yang ingin selalu kukenang. Yang merdu dilantunkan dengan suaramu yang hangat. Tapi, aku kha...

Bersamamu

http://totidemverbissum.blogspot.co.id/2015/12/konkret.html?m=1 Ada yang lebih sendu dari rindu. Yaitu gerimis ngericik yang tidak tahu mau berhenti atau jalan terus. Kata bunda, jangan lupa pakai payung, sebab gerimis paling jago bikin sakit. Tapi katanya, "Ini sih cuma gerimis, kalau belum hujan, belum seru!" Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Dia seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Melihatnya menyetir di mobil kala gerimis membuat hatiku ikutan sejuk. Ah dasar curang! Hanya karena sebuah foto, dia berhasil menjebakku sampai disini dan pulang bersamanya.  Tapi tak apa, sebab aku yakin hati ini sedang demam cinta. Kata orang cinta itu fluktuatif dengan diagram yang tidak tentu bentuknya. Kataku, cinta itu adalah jagad raya mengembang yang bisa pecah kapan saja, dan letaknya ada di kepalamu. "V, kamu suka lukisan? Besok ada pameran. Kalau kamu suka, besok kita bisa pergi bersama" Aku menggeleng.  "Kenapa?" Tanyanya. "Aku mau men...

Yang Mesra Tentang Hujan

Ada hal yang mesra tentang hujan bulan Desember. Ketika awan bergulu-gulung manja di langit. Dan matahari yang tak sabar menunggu giliran untuk terbit lagi. Disusul tawa anak-anak kecil yang bermain banjir. Dan cipratan dari genangan-genangan oleh roda sepeda motor. Serta sahut-sahutan klakson di tengah macet nya lampu merah.  Ada hal yang lebih mesra dari hujan bulan Desember. Ketika mendengarkan suara gesekan sepatu kets nya di aspal yang licin. Menopang langkah tegapnya menuju jalanan setapak. Menenteng kantong-kantong penuh nasi padang untuk anak-anak jalanan yang sedang kelaparan.  "Berbagi itu masalah kebutuhan. Ini cara hidup, bukan sekedar cara pandang." Katanya di suatu hari. Kemudian aku jatuh cinta. Iya, begitu saja... Aku tidak pernah berhenti mengaguminya. Ada sesuatu yang tidak pernah tersirat tetapi nampak di matanya. Kedua bola matanya yang cokelat terang. Hidungnya yang mancung dan sedikit bengkok. Bentuk rahangnya yang kokoh. Kacamatanya yang seringkal...