Posts

Escape

The second Chapter of Fall Untuk para pembaca yang harus memberi keputusan kepada hidup Happy Reading!! “Meskipun aku bukan lagi kekasihmu, aku akan selalu bersedia menjadi bahu untuk tangisanmu. Dengan senang hati, aku berjanji” Kata-kata itu mengiang-ngiang di kepalaku. Memantul terus-menerus dan tak mau berhenti. Akankah Finn begitu setia ada untuku? Dia tidak akan pernah menjadi bahu ketika aku menangis, sebab hanya dengan melihatnya aku akan merasa baik-baik saja seolah angin segera membawa beban hidupku. Jika aku bahagia, dialah sebabnya. Jika aku bersedih, dia jugalah sebabnya. Dia bagaikan titik 0 dimana segala keseimbangan dalam hidupku adalah keputusannya. Aku berusaha sibuk dan tidak peduli tetapi selalu saja secara tidak sengaja aku ditarik untuk melamunkannya lagi dan lagi. Belakangan, aku berusaha menjalin sebuah hubungan dengan laki-laki bernama Andre. Cucu dari rekan bisnis kakeku. Sempurna, seperti Finn. Tetapi sejauh ini, aku tak punya perasaan apa-apa. ...

Fall

Image
To my whole reader Thank You for being so amazing *Well I dont wanna lose it either   I don't think I can stay sitting around while you're hurting   So take my hand   But you can't fly unless you let yourself fall -Justin Bieber

No Title

     Laki-laki dan gadis itu duduk beriringan dengan wajah murung yang ditundukan kebawah. Rasanya, sakit di dada membuat mereka bungkam dan hampir mati.      "Kau tau aku sulit jatuh cinta" kata si gadis      "Aku tau"      "Kau tau apabila pada akhirnya seseorang membuatku jatuh cinta dengan hati, mungkin satu jagad raya akan bertepuk tangan untuknya"      "Aku tau" laki-laki itu menjawab lagi.      "Kau tau, dan sekarang aku jatuh cinta, jatuh cinta pada seseorang yang tidak boleh kucintai. Laki-laki itu ada disisiku, dan selalu begitu"      "Aku tau" si laki-laki menghela napas. "Dengarkan aku, kita berada di jalan yang berbeda. Jalan kita diciptakan untuk saling bersentuhan tapi tidak untuk menjadi satu. Mau seribu hidup kau korbankan, kita harus sadar kalau hidup berdampingan bukanlah milik kita"      "Apa yang bisa aku korbankan? Aku bahkan tak punya apa-...

Arjuna

To the rain that falls down into the earth and touch me softly Thank you~        Aku mengintipnya dari celah-celah rak buku yang tinggi. Sambil beradu kuat dengan sorot matahari yang yang berusaha mencolok-colok mataku. Aku mengaguminya, laki-laki dengan mata hazel yang begitu hangat, seperti lelehan cokelat yang lumer didalam mulut. Indah, lezat, menggairahkan. Aku bagaikan tersungkur setiap kali berusaha melekatkan mataku pada siluet dan bahkan setiap senti bayangan tubuhnya. Aku sering memimpikannya terbang dengan sayap putih dari bulu yang direkatkan hingga tebal. Mungkin dia jelmaan malaikat, pikirku liar.      Arjuna. Begitu nama itu terngiang-ngiang dari fajar hingga gelap, tak pernah berhenti, tak pernah letih. Dialah satu-satunya yang berhasil menembakan panah kearahku dan membuatku tak berdaya. Aku sekarat dibuatnya dengan ribuan panah yang menancap setiap detiknya. Dia bisa saja membunuhku dan menghidupkanku.      Dia ...

Edisi Jakarta

Second Chapter of Bali to Barcelona the end of the story         Aku berpangku tangan sambil terus mencoret-coret buku sketsaku. Austin duduk dihadapanku dengan Thai Spicy Chicken super besar yang dilahapnya dengan penuh pengkhayatan. Kami sedang duduk menikmati makan siang di sebuah resto bernuansa New York di Kemang, Jakarta. Musim panas pertama Austin di Jakarta. Rasanya berbeda, tapi 'menyenangkan'.         "Have you finished?" Barangkali dia hanya berusaha mengingatkanku kalau aku belum menyentuh Philly Steak dihadapanku, sama sekali. Jadi aku hanya menggeleng.         "i could it a horse"         "Take mine if you want"         "All i want is see you touch your spoon"         Aku menyentuh sendokku, lalu meletakannya lagi. Austin  mengangkat alis setengah kesal "Get you something to drinks girl or just about to go?"         Aku ...

Beautiful Goodbye

Image
Campo Santo Stefano                    Keyra dan Daniel sedang mematung di sebuah cafe Ice Cream di jalan setapak Campo Santo Stefano, Venice. San Marco sedang padat, musim panas memberikan ruang sempit bagi para penduduk Venice maupun wisatawan asing. Dari sudut cafe Galateria Paolin, sambil menikmati menu ice creamnya, Keyra dan Daniel terdiam sendiri.                 “Kau membenciku? Kenapa kau menjauhiku belakangan ini?” tanya Daniel datar. Sesekali memperhatikan jalanan dengan hampa.                 “menurutmu ada apa? Jangan berlebihan, tidak ada apa-apa.” Keyra berbicara seperti biasa, ringan dan santai tetapi temponya lebih lambat. “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Valen? Hubungan kalian baik?”             ...

Panggung kisah

        Ada skenario yang bercerita ketika aku dalam drama. Aku sedang berperan di sudut panggung, memperhatikanmu berlarian kesana dan kemari. Aura-mu berpendar, memercik seperti serpihan bintang yang ditarik gravitasi matahari. Dibawah sorot rembulan dari spotlight yang remang, aku masih mengagumimu. Bahkan kalaupun panah dari jemari Rama berusaha menyoyak cinta di dalam raga, kau tetap serpihan kecil yang kusimpan seorang diri.         Aku tak mau membuat rekayasa. Aku ingin kita bercerita dengan sendirinya. Panggung itu adalah bumi dimana kaki menemui pijakannya. Seluas tanah dan air apabila menjadi semu. Katanya, rindu pada matahari hanya terbit ketika cahaya menjadi butiran salju. Maka biarkan setiap percakapan singkat itu menjadi fragmen-fragmen yang milyaran harganya. Walau aku penuh dengan pengharapan, aku tak akan maju dengan pedang untuk berperang.         Kulitmu yang cokelat, rambutmu yang legam dan selalu rapih,...