Tidak lagi menarik Melihat dirimu Walau sekedar dari jendela timeline Tidak lagi rindu Mengingatmu Justru sakit itu menguak berlebih Tidak lagi berharap Mendengar suaramu Sebab kamukan yang melarikan diri Tidak lagi suka Menjumpaimu Ternyata menghindar menenangkanku Tidak lagi butuh Kabarmu Aku dimana, kamu juga tidak mau tahu Tidak lagi senang Melihat senyummu Senyum itu penuh tipu-tipu Ah, tidak lagi Tidak mau lagi Sama yang senang melarikan diri
Purnamaku berlarut Menguap kemudian turun hujan Rinduku bersedu Katanya ingin berjumpa dengan Cinta Waktu selalu melompat Kadangkala berlarian Aku tak lagi punya daya Untuk sekedar menghitungnya Banyak cangkir kopi yang tandas di lidah Tapi tak ada yang sepahit kehilangan Tak ada yang serumit merelakan Dan gula tak membuatnya lebih manis dari kenangan Aku mau berlari Mengelilingi bima sakti Demi menemukan Cinta yang hilang Yang dulu aku tinggalkan Embun selalu meregang nyawa Diujung ranting, ketika fajar Aku adalah embun itu, Cinta Mati, sebelum senja... Boleh kau benci aku Dengan segenap inginmu memilikiku Dan rindu yang mulai melayu Atas semua keputusanku Tapi aku bisa menebusnya Tidak lagi dengan hitungan purnama Tetapi dengan sisa hidup yang kita punya Sampai nama jadi hiasan nisan Yang terakhir bagiku, Cinta Untukmu, kujanjikan pula yang terakhir Tak lagi perlu kejar-kejaran Hanya tinggal menetap saja... Aku, dan kamu, Tanpa purnama
Untuk sahabatku yang lahir di batas waktu WITA Happy New Year! Bali to Barcelona Aku meniup-niupkan poni yang daritadi jatuh menghalangi pandanganku. Bali, disinilah pada akhirnya aku pergi melarikan diri. Lari dari kota yang membesarkanku jadi hebat, lari dari rutinitas yang memaksaku untuk berkembang, dan lari dari orangtua yang jarang memberi waktu untuk putri semata wayangnya. Seharusnya aku sedang memainkan salju di atas tanah Barcelona dan memenuhi jadwal pertemuan relasi yang dirancang orangtuaku, tapi disinilah aku, di atas puncak Bali dan merasakan kabut yang turun. Bedugul indah dan eksotis, tentu beda dengan deretan mall di ibu kota tercinta. "Hello honey, how's your holiday?" “This resort area is so cool mom” Kesunyian itu menyergap lagi. Kecanggungan ini masih sangat nyata bahkan pada sambungan telephone jarak jauh sekalipun. She’d disappointed, ya karena aku memilih merencanakan liburan sendiri dan tersesat di kota orang. Sedangkan mereka m...
Comments
Post a Comment