Kata orang, hidup itu dijalani. Bagiku, lain cerita, sebab hidup bagiku adalah multiple choice question, yang jawabannya selalu lebih rumit dari pertanyaannya sendiri. Sementara soalnya tidak pernah bisa dipesan, ada begitu saja dan mau tidak mau harus dijawab. Seperti setiap kali aku melihatnya, dan luka itu masih terasa nyeri di dada, mengapa harus orang lain yang menjadi alasan dia tertawa? Sementara aku bisa mengupayakannya lebih baik. Aku pernah melakukannya, aku pernah mengusahakannya, tetapi mengapa bagi dia tidak cukup? Aku ingin merebutnya kembali, aku ingin memaksanya disini, dulu aku melakukannya entah berapa kali jumlahnya, sampai aku lagi-lagi sadar, untuk apa? Sebab tidak lagi ada gunanya jika aku tidak mampu membuatnya bahagia. Tidak lagi ada esensinya jika bertahan saja dia tidak mau, mengapa aku harus memperjuangkannya? Tidak lagi ada artinya. Tapi dia perlu tahu, dulu aku bahagia, ketika bersamanya. Tapi dia juga perlu tahu, meskipun dia berlalu, aku masih san...
Untuk seseorang yang tidak mungkin kusebutkan namanya... Kala itu langit berdarah mencipratkan semburat merah jambu di angkasa. Menyongsong parade kepulangan siang dan berpesta menyambut sang malam. Aku yang terdampar sendiri di sini, dengan pesawat kelas ekonomi yang jauh melayang dari ibu kota. Menapaki keramaian Yogyakarta yang mulai dikepung alunan musik dan nyanyian di tepi jalan. Lama rasanya kebisingan bisa terasa menenangkan, juga menyenangkan. "Karina..." kemudian suara itu menyapaku dari belakang. Seolah sedang menepuk punggungku dengan kehangatan. Aku menoleh. Aku hanya bisa tersenyum. Melihat wajah nakal jenaka itu tersenyum lagi. Raut jahil yang kembali dapat kutatap langsung dengan kedua bola mataku. "Adrian..." Aku tidak akan kembali di tanah ramai ini jika bukan karenamu. Jika bukan karena pertemuan tidak sengaja kita tepat setahun silam ketika kau menanyakan waktu di bandara Adi Sucipto, lengkap dengan pakaian pilo...
Purnamaku berlarut Menguap kemudian turun hujan Rinduku bersedu Katanya ingin berjumpa dengan Cinta Waktu selalu melompat Kadangkala berlarian Aku tak lagi punya daya Untuk sekedar menghitungnya Banyak cangkir kopi yang tandas di lidah Tapi tak ada yang sepahit kehilangan Tak ada yang serumit merelakan Dan gula tak membuatnya lebih manis dari kenangan Aku mau berlari Mengelilingi bima sakti Demi menemukan Cinta yang hilang Yang dulu aku tinggalkan Embun selalu meregang nyawa Diujung ranting, ketika fajar Aku adalah embun itu, Cinta Mati, sebelum senja... Boleh kau benci aku Dengan segenap inginmu memilikiku Dan rindu yang mulai melayu Atas semua keputusanku Tapi aku bisa menebusnya Tidak lagi dengan hitungan purnama Tetapi dengan sisa hidup yang kita punya Sampai nama jadi hiasan nisan Yang terakhir bagiku, Cinta Untukmu, kujanjikan pula yang terakhir Tak lagi perlu kejar-kejaran Hanya tinggal menetap saja... Aku, dan kamu, Tanpa purnama
Comments
Post a Comment